Kebiasaan Buruk Indonesia Menangani Teroris

densus

Kejadian serangan teror di Jakarta tepatnya di Starbuck Coffee / Sarinah Jakarta baru saja terjadi anda bisa cek di youtube akan sangat banyak sekali video2 amatir yang merekam adegan tembak menembak antar polisi/densus 88 VS teroris yang di tengarahi sebagai anak buah Bahrun Naim.

Yang saya soroti bukan serangan teror nya, namun kebiasaan buruk negara yang kita cintai Indonesia ini, apakah kebiasaan buruknya ? ok akan saya jelaskan secara detailnya.

Dulu jaman sebelum Bom bali sampai 2x dan JW mariot, ritz carlton dsb, system keamanan kita ini sangat lemah dan sepertinya kebiasaan orang Indonesia meremehkan semua masalah, ( kayak emosi nih he he he ), bukan menjudge semua orang Indonesia ya krn saya termasuk orang Indonesia juga . Kita coba telaah baik-baik deh apa yang saya utarakan di artikel ini.

Meremehkan masalahnya dimana ?

Setelah bom meledak di suatu tempat, seluruh mall dan instansi seluruh Indonesia pada siaga 1, bahkan ketika masuk mall saja, pintu di buka, di cek dalam mobilnya ada barang apa saja, dan di lihatin siapa saja di dalamnya. Eit belum lagi kalo anda pejalan kaki /masuk lewat lobby, anda di minta untuk masuk pintu scanner, begitu bunyi tit..tit.tit… anda akan langsung di cek petugas dan di minta untuk mengeluarkan barangnya. Begitu juga tas bawaan anda akan dicek ada bom nya atau tidak. Benar kan kata saya ????

Setelah proses berjalannya waktu, system keamanan yang saya sebutkan di atas cuma jadi “hangat-hangat tai ayam” , maaf agak jorok 🙂 setelah sebulan ,2 bulan, berganti hari dan minggu, system pemeriksaan keamanan yang saya sebutkan di atas mulai kendor, petugas mulai males… dan akhirnya lenyap siapa saja biasa masuk ha ha ha meskipun anda bawa tas apa saja lewat saja deh ….

Kemudian tiba-tiba muncul ledakan di sebuah mall, langsung deh panik lagi, siaga 1, seluruh mall melakukan pemeriksaan ketat, scan sana sini, pelotot sana sini, dsb . Dan siklus itu akan terus menerus terjadi. Saya pribadi muak dengan pengamanan “hangat-hangat tai ayam” begini, mau sampai kapan Indonesia akan aman kalo mental petugas security nya kayak begitu ?

Dan bukan cuma di Surabaya sebagai kota dimana saya tinggal, di jakarta, semarang dan kota2 besar lainnya sama saja kok, itu yang bikin saya heran, kita ini sering cenderung meremehkan hal-hal seperti itu, kalo udah duar!!! baru cari kambing hitam, tunjuk sana sini……

Tolong deh , saya berharap artikel ini di baca pak Presiden JOKOWI, artikel ini tidak mengkritik kok, ini curhat pribadi saya sebagai warga negara yang baik.

Saran saya :

Buatlah SOP ( Standart Operation Procedures ) yang sudah baku, yaitu sebuah mall sebelum menggunakan outsourching security ataupun merekrut petugas security, harus menyiapkan standart yang di kendalikan oleh pemerintah melalui audit berkala –> misal saya ngawur saja di handle oleh Kementrian Pertahanan, sehingga bila sebuah mall tidak melakukan SOP yg benar2 ketat, maka teguran dan sangsi di kenakan ke mall/instansi tersebut.

Dan yang terlebih penting, mental2 petugas security ini yang harus di rubah….. percuma ada SOP, kalo mental SDM nya amburadul.

Sekian curhat saya…

 

Comment